Senin, 11 Desember 2017

Dimana Masa Indahmu Berada? Balita, Remaja, Dewasa atau Lanjut Usia?

Setiap manusia mempunyai beberapa tahapan dalam hidupnya. Dimana masa yang kalian paling suka?

SD
Masa saat kita memiliki banyak teman bermain. Bermain di sekolah dan bermain di rumah. Belajar kelompok sambil bermain dan bermain dengan alasan belajar kelompok. Di masa aku SD, permainan kami adalah permainan tradisional seperti petak umpet, benteng (bahasa jawa: betengan), ding dong (bahasa jawa: engklek gacuk), karambol, gobak sodor, bekel (bahasa jawa: gatheng)  dan lain-lain. Kemudian permainan olahraga seperti kasti, sepak bola, dan voli. Sekolah adalah tempat bermain paling menyenangkan, bahkan di kelasnya pun bisa. Dari bermain lompat tali di bagian belakang barisan bangku, bermain rumah-rumahan dengan buku dan alat tulis... Upps 😊 masa lalu. Selain itu, yang menyenangkan saat usia SD adalah jajanan dan mainan yang dijual di area sekolah. Kami bisa membeli berbagi macam makanan seperti somay, gulali, es buah coklat, dan masih banyak lagi. Hal-hal masa SD di daerahku , kini sudah sulit ditemukan lagi. Aku cukup beruntung pernah mengalami masa itu.

SMP
Masa dimana teman bermain semakin bertambah, namun permainan tradisional semakin berkurang. Teknologi mulai mengucilkan permainan tersebut. Handphone dengan fitur pemutar musik dan kamera adalah yang paling canggih dan hanya dimiliki siswa kalangan menengah ke atas. Aku sendiri memiliki HP di kelas 8, yaitu No**a yang hanya memiliki fungsi telepon dan mengirim SMS. Namun di kala itu SMS sudah menjadi hal yang sangat berguna bagi kami. Untuk bertukar informasi, bertanya kabar, serta sekadar menyapa. Hal itu menjadi aktivitas favorit kami, karena layanan kartu telepon saat itu menyediakan berbagai bonus SMS gratis dari 100-1000x. Bahkan ada pula yang memberi bonus telepon.
Namun hal ini ternyata bukan hal yang memberi dampak baik bagi anak seusia SMP. Mereka yang seharusnya bisa berbincang langsung dengan bertatap muka, tapi malah memilih cara yang kurang santun. Bahkan di kelas yang sama pun masih saja memilih SMS untuk komunikasi.

SMA
Masa ketika kita semakin banyak teman. Permainan tradisional masih ada, masih ada yang melakukan. Yaitu orang-orang yang sadar bahwa permainan tradisional itu hemat dan menyenangkan. Teknologi sudah bukan hal baru, bahkan menjadi hal biasa. Hampir seluruh siswa memiliki HP dengan fitur musik, kamera, dan ditambah dengan internet. Mulai muncul sosial media (sosmed), media komunikasi melalui internet yang mengharuskan kita memiliki akun pribadi untuk bisa terhubung dengan teman lama, teman saat ini, bahkan calon teman yang belum dikenal. Sosmed yang saat itu paling diminati adalah facebook, dan hampir semua siswa pun memiliki akun di sosmed tersebut. Ada yang punya akun ganda, dengan nama asli, samaran, hingga nama yang sulit dimengerti. Mungkin saat seperti ini adalah usia kita menjadi alay (anak lebay). Alay adalah kondisi dimana seseorang sudah lewat remaja namun belum mencapai dewasa. Mereka sering melakukan hal secara berlebihan
Menulis berlebihan di sosmed (contoh: ya menjadi yach). Menulis kata yang seharusnya menggunakan huruf diubah menjadi angka (contoh: aku mau menjadi 4ku 5u).

Tempat bermain sudah tak lagi di rumah teman atau di sekolah, tapi siswa SMA lebih sering menghabiskan waktu di warnet (warung internet). Kita bisa akses internet dengan layar lebih lebar dalam waktu lama dengan biaya cukup lebih murah dibandingkan beli pulsa internet di HP. Selain itu, mereka sudah mulai bermain ke tempat wisata atau tempat bagus lainnya. Tujuannya agar bisa menggunakan fitur kamera di HP mereka.

Anak SMA sudah mulai melatih kemandirian dan melakukan aktivitas yang lebih bermanfaat melalui organisasi dan eskul. Aku sendiri bergabung di organisasi Rohis (Kerohanian Islam), Pramuka, dan mengikuti eskul karate. Selain menambah teman dengan minat yang sama, aku belajar bagaimana bentuk kepedulian dan kerjasama untuk bertahan di dalam suatu organisasi yang membawa manfaat.

Perguruan Tinggi (S1)
Masa pendidikan setelah SMA. Sebelumnya aku mencoba kuliah di perguruan tinggi negeri, kebetulan ada tawaran beasiswa juga. Namun ternyata bukan keberuntungan, karena aku tidak lulus di SNMPTN di Yogyakarta. Aku tidak lagi mencari tempat kuliah di sana. Aku ditawari kakak untuk kuliah di universitas swasta di Tangerang Selatan. Awalnya aku sudah tidak ingin melanjutkan kuliah dan hanya berniat merantau dan mencari kerja. Namun akhirnya aku memutuskan untuk kuliah sambil bekerja. Cukup menyenangkan dan ternyata lebih semangat ketika melakukan keduanya.
Tentang masa kuliah, yaitu masa dimana teman tentunya semakin banyak setelah digabung dari teman SD sampai kuliah. Tak ada lagi permainan tradisional, bermain dengan alasan belajar kelompok dan berlama-lama bermain sosmed atau game di warnet. Hampir semua mahasiswa punya android yang sudah menjadi kebutuhan (bisa dibilang primer), dan sudah memenuhi keperluan yang dianggap lebih seru dari permainan masa sebelumnya. Teman adalah rekan berdiskusi, bertukar informasi dan pengalaman, bertukar jawaban saat ujian, dan berbuat kekonyolan. Tempat berkumpul tak sering terjadi di rumah karena sebagian besar dari kami adalah pekerja dan hanya sedikit waktu yang luang. Kami memilih tempat yang nyaman untuk berbincang-bincang seperti tempat parkir, plataran kampus, taman, depan ruko (yang malam hari sudah tutup), dan sesekali di kafe atau warkop ketika awal bulan. 😄

Entah mengapa masa ini terkadang aku ingin bilang sebagai masa pemberontakan dan kebebasan. Dari hal kecil yaitu telat masuk kelas bukan suatu kesalahan, tidak mengerjakan tugas adalah kemakluman, serta menyontek yang merupakan kebiasaan.
Adapula saat dimana banyak aktivis bermunculan, membela segala macam persoalan yang dianggap tidak sejalan dengan kebenaran dan pendapatnya. Ini berakhir ketika skripsi mulai menjadi hal yang mengganggu pikiran mereka. Hal yang tidak mau dikerjakan namun sia-sia 4 tahun berjalan kalu tidak diselesaikan. Mengubah orasi menjadi harus terbiasa presentasi.

Masa kuliah bukan lagi masa memikirkan lulus dan lanjut studi saja. Tapi kita mulai berpikir mengenai jumlah usia yang akan diisi dengan kehidupan apa di kemudian hari. Mengubah dari mencari solusi mengatasi masalah tersulit yaitu PR matematika menjadi mencari solusi mengatasi PR masa depan mau jadi apa. Mengubah dari bermain rumah-rumahan menjadi bagaimana kita bisa memiliki rumah sungguhan. Mengubah dari mau mencari pacar seperti apa menjadi mau kapan siap menjadi istri/suami.

Tahapan usia manusia supaya menjadi cukup bermakna:
1. Bayi/balita
2. Anak-anak
3. Remaja
+4. Alay
5. Dewasa
6. Lansia (lanjut usia)

Jika kamu lahir di 1994, mungkin ada sedikit kisah kita yang sama. 😊

-Kosan Lt. 2-

Tidak ada komentar:

Posting Komentar