Aku memulai pendidikan formal di Sekolah Dasar. Kala itu sekolah usia paling kecil adalah TK (Taman Kanak-Kanak), namun entah harus bangga atau sok pintar aku memang merasa bangga tak perlu melewati pendidikan TK dan bisa langsung masuk SD. Padahal pada kenyataannya karena orangtuaku tidak memiliki atau menyisihkan uang untuk menyekolahkan anaknya di TK.
Untungnya aku mempunyai banyak kakak yang siap mengajariku pelajaran usia TK, bahkan mungkin lebih dari anak TK pada umumnya. Lebih untungnya semua itu kudapat gratis, dengan bonus kasih sayang pula. 😊
Kelas satu SD masih tahap diajari cara membaca dan menulis. Tak seperti teman-teman yang lain yang masih belum bisa membaca dan menulis meskipun telah sekolah TK, akupun bersyukur telah bisa melakukannya berkat guruku di rumah. Ya, mereka adalah kakak-kakakku.
Waktu berlalu, hingga tiba aku di kelas 6. Aku bisa dibilang anak yang bisa dibanggakan orangtua di usia itu. Karena berkat aku, mereka bisa bercerita bahwa anaknya pandai dan selalu rangking 1 sampai kelas 6. Kebanyakan orangtua akan memberikan hadiah sebagai penghargaan atas prestasi anaknya. Berbeda dengan orangtuaku, tapi aku sudah bahagia melihat orangtuaku bangga dan tersenyum karena hasilku.
Kehidupan usia SD memang sangat menyenangkan bagiku. Dimana beban terberat di pikiran saat itu hanyalah PR matematika. Aku tak harus memikirkan bagaimana mencari uang dan bekerja banting tulang. Karena semua itu adalah pekerjaan orang dewasa. Aktivitas seusiaku adalah belajar dan bermain di sekolah, belajar kelompok yang ujung-ujungnya hanya bermain, bermain ke rumah teman dengan alasan belajar kelompok, mengaji sore hari di masjid sambil bermain dengan teman dan membantu pekerjaan rumah orangtua sebisanya. Simpulannya, mayoritas aktivitas adalah bermain.
"Ketika orang bilang tugas pelajar di rumah adalah belajar. Aku tidak setuju. Karena aku tak pernah belajar. Yang terpenting adalah belajar di sekolah dan kerjakan PR. Sisanya tugas anak adalah bermain." 😊
-Kosan Lt. 2-
Tidak ada komentar:
Posting Komentar